Posted by: napi1708 | April 21, 2007

RUTAN Tak Lagi "HOTEL PRODEO"

Kebebasan pasti berharga sangat mahal. Namun, siapa sangka, di bumi pertiwi ini masih ada harga yang lebih mahal dari sebuah kebebasan itu sendiri, yaitu keterkungkungan.

Tak satu pun insan di bumi ini yang rela hidup terkungkung, apalagi harus membayar mahal. Namun, bagi para narapidana, mau tidak mau, kehidupan itu harus mereka pilih. Setidaknya, itulah yang tersaji secara kasatmata, jelas, dan gamblang di rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta. Sebuah rutan khusus perempuan.

Harga mahal itu bahkan telah dimulai di pintu terluar. Awalnya, pengunjung harus mendaftar dan menunjukkan KTP di loket kecil sebelah kiri pintu sambil “menyelipkan” selembar Rp 5.000-an ke tangan petugas. Selanjutnya, petugas akan mencatat dan mendaftar nama serta jumlah pengunjung. Lagi-lagi selembar Rp 5.000-an diselipkan.

Karena Pondok Bambu adalah rutan bagi perempuan, pengunjung perempuan harus mendapatkan stempel di punggung tangan kanan untuk membedakan pengunjung dan penghuni. Pada tahap ini, kembali selembar Rp 5.000-an “berbicara”. Hanya, tidak diselipkan di tangan, melainkan di sebuah kotak resmi.

Setelah menjalani seluruh “prosesi”, pengunjung baru mendapat angin untuk menemui kerabat yang kebetulan sedang menjadi penghuni. Takaran antara penghuni dan pengunjung ternyata jauh berbeda. Jika pengunjung masih pada takaran “ribuan”, tidak demikian bagi penghuni.

Kala mendapat kunjungan, seorang penghuni harus dijemput oleh tamping atau tahanan pendamping dan nanti diantarkan kembali ke sel. “Tamping” adalah “anak kambing” atau pria di bawah umur yang ada dalam binaan mereka.

Tentu, budaya salaman, sisipan, blesetan, atau apa pun namanya berlaku di sini. Pada hari biasa, angka “salaman” masih ribuan. Namun, pada hari Sabtu dan Minggu, ongkos buka-tutup pintu dari sel ke ruang tamu sebesar Rp 10.000 untuk sekali buka.

Sangat mahal

Hidup memang tidak ada yang gratis, bahkan ketika di dalam penjara. Untuk memperoleh kehidupan “layak”, seorang tahanan atau narapidana (napi) harus membayar segala hal hingga mencapai jutaan rupiah. Katakanlah, untuk segera mendapatkan kamar, ia harus merogoh Rp 100.000. Itu untuk kamar seadanya yang dihuni 25 napi.

Untuk kamar VIP yang hanya dihuni tiga orang dengan kasur spring bed single, perlu “tanda jadi” antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta dan uang jaminan Rp 300.000 per bulan. Kamar ini biasanya dilengkapi dengan kipas angin dan televisi, bahkan kadang fasilitas karaoke.

Itu baru kamar, belum urusan lain. Untuk makan, misalnya, tiap napi dipungut biaya Rp 10.000 per tiga hari, dengan lauk-pauk seharga Rp 3.000 untuk satu jenis lauk di kantong plastik. Lalu, uang kebersihan, fitness, atau jaga yang bervariasi. Fitness harian ditawarkan biaya Rp 10.000, sedangkan per bulan Rp 150.000.

“Kalau enggak punya uang, ya, jadi pembantu tahanan lain. Uangnya di-kumpulin buat bayar iuran kamar ke kepala kamar,” ujar Betsy yang juga sempat menghuni Rutan Pondok Bambu dan LP Wanita Tangerang. “Kalau enggak punya duit, ya, makan nasi (makanan penjara). Wuah.., rasanya enggak karuan,” sambung Betty, mantan napi lain yang murah senyum ini.

Napi yang baru masuk umumnya dijebloskan ke dalam sel karantina selama dua minggu. Di tempat inilah mereka kadang diplonco oleh penghuni lain. Karena itu, banyak napi yang berusaha menghindari sel karantina. Untuk lolos karantina atau yang diistilahkan “turun kamar” perlu biaya antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Walau begitu, untuk mendapat kamar, napi tetap harus membayar sesuai yang diinginkan.

Sedangkan untuk segera keluar dari sel tikus, petugas hanya menerima ongkos sekitar Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Sel tikus adalah sel sempit yang jorok, bau, dan tidak berkamar mandi. Di tempat ini, bisa bergabung tahanan lain yang kadang sakit kulit, bau, dan tak terurus. Biasanya, sel ini untuk menghukum napi yang bandel. “Setiap tahun, harga yang diminta terus naik,” kata para mantan napi itu sambil geleng- geleng kepala.

Jika napi tidak ingin dipindah ke LP Tangerang, setelah vonis dijatuhkan, atau yang diistilahkan “nahan”, perlu biaya antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta sebagai ongkos awal. Jumlah itu masih ditambah Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per bulan.

“Jadi, bisa dibayangkan berapa biaya yang dikeluarkan artis yang baru-baru ini divonis agar bisa bertahan di rutan Pondok Bambu dan tidak dipindah ke lapas Tangerang,” kata seorang napi di Pondok Bambu seraya menyebut nama seorang artis cantik yang tenar. “Makanya, ada yang di rutan sampai enam tahun. Pokoknya asal bayar dan enggak berbuat kesalahan lagi di dalam penjara, mereka tidak akan dipindah,” katanya.

Untuk alat komunikasi, pengelola rutan Pondok Bambu memasang tarif pendaftaran ponsel tanpa kamera sebesar Rp 600.000, plus ongkos pemeliharaan Rp 150.000 per bulan. Ponsel yang tidak terdaftar akan langsung disita saat inspeksi mendadak atau sidak.

Usaha di penjara

Untuk menutup biaya hidup di rutan yang cukup tinggi, mereka terpaksa membuka usaha. Seorang napi, misalnya, mengaku terpaksa membuka usaha “rentenir” lewat sesama tahanan yang bermodal besar. Keuntungan lalu dibagi dua. “Habis gimana, keluarga saya sudah enggak mau tahu, yang tanggung,” ujarnya. “Sedang saya terpaksa menjadi tukang potong rambut,” ujar napi lainnya.

Bisnis lain adalah menyewakan telepon genggam dengan biaya Rp 2.000 untuk sekali atau satu pesan pendek. Yang paling miris adalah bisnis penganan atau kue basah buatan “orang kamp” alias pegawai penjara. Mereka tinggal memerintahkan seorang napi untuk menjajakan sampai terjual habis!

Cara yang digunakan pun “setengah memaksa”. Dalam arti, “orang kamp” menyerahkan seluruh barang dagangan dan langsung dihitung terjual habis meski belum diedarkan. Walhasil tahanan atau narapidana yang “ketiban pulung” harus berjualan atau setidaknya memborong penganan yang tidak terjual dengan uang pribadi.

Sore itu halaman depan rutan Pondok Bambu begitu riuh. Bahkan, penjual bakso atau bakmi dari kantin di luar rutan sibuk keluar-masuk mengantar pesanan. Sebagian besar penghuni sedang menikmati sore dengan bermain voli atau bercengkerama. Tak segurat pun tanda ketegangan di wajah mereka.

Hal itu bisa dimengerti. Kecuali kemerdekaan untuk hidup di luar yang terpasung, sebenarnya kehidupan mereka bagai tak sedang terpenjara. Di dalam ruang sempit itu, mereka tetap bisa mendapatkan suplai apa pun yang diinginkan, dari sekadar semangkok bakso hingga barang haram yang hingga kini dilarang keras.

“Malah kalau saya sedang pingin, saya tinggal telepon petugas, nanti mereka anter ke kamar,” cerita seorang napi. Ia waktu itu minta dikirim minuman keras. “Tetapi, kalau obat (narkoba), ya justru di dalam, kami bisa dapat lebih murah dan aman,” katanya.

Meski tampak gamblang dan nyata, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM DKI Gusti Tamarjaya membantah adanya pungutan di rutan dan lapas. Dia berjanji akan memproses secara hukum oknum petugas yang melakukan pemerasan atau memungut bayaran tambahan.

(IRN/ONG/JAN/RIE)

ditulis oleh KOMPAS dalam kolom FOKUS

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/21/Fokus/3469102.htm/


Responses

  1. menarik sekali kehidupan di penjara, jadi kalo tertangkep lagi harus punya modal besar donk. Kayak orang lagi liburan gitu.

    Pantas aja karyawan Lapas dan Rutan senang kerja walau gaji dikit

    So klo mau buka usaha di Lapas aja atau di Rutan
    modalnya hanya kelakuan nakal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: